Kunci Menjadi Kehidupan yang diberkati; Bagian 3: Berkat Ayub - Berkat Ganda
Kunci Menjadi Kehidupan yang diberkati;
Bagian 3: Berkat Ayub - Berkat Ganda
Ayub adalah seorang yang mendapat berkat dua kali dan dua kali lipat dari Tuhan. Mengapa kami katakan mendapat dua kali dan dua kali lipat? Karena benar Ayub mendapat berkat dua kali dan pada berkat yang kedua kali, ia mendapatkan dua kali lipat banyaknya dari berkat yang pertama.Berkat pertama adalah Tuhan memberkati setiap apa yang di kerjakan oleh Ayub dan memagari Ayub beserta segala yang dimilikinya dengan pagar perlindungan. Itu dapat kita baca pada Ayub 1:10. Karena itu apapun yang di kerjakan oleh Ayub berhasil sehingga hartanya semakin lama semakin bertambah banyak. Pada masa itu Ayub menjadi orang yang terkaya di daerahnya. Itu kita temukan pada ayat dibawah:
Ayub 1:3 Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
Saudaraku, kita tahu tidak begitu saja Tuhan memberikan berkat terhadap Ayub. Tentu saja ada hal-hal yang istimewa dari diri Ayub sehingga Tuhan begitu mengasihi dan mencurahkan berkat melimpah atas dirinya. Apa hal-hal istimewa itu? Kita temukan pada ayat dibawah:
Ayub 1:1 Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
Dari ayat diatas kita melihat bahwa ada 4 sifat istimewa Ayub yang membuat Tuhan begitu memberkatinya yaitu:
1. Ayub adalah seorang yang saleh.
Ayub dikatakan Saleh karena Ayub adalah orang yang taat beribadah kepada Tuhan. Ayub rajin mempersembahkan korban-korban kepada Tuhan sebagai tanda bahwa ia tundu dan taat kepada perintah Tuhan. Ayub mengerti bagaimana menyenangkan hati Tuhan.
2. Ayub adalah seorang yang jujur.
Ayub dikatakan jujur karena Ayub adalah orang yang bertindak jujur dalam perkataan maupun jujur dalam perbuatan. Dalam Alkitab tidak satupun kita temukan kata-kata curang yang keluar dari mulut Ayub. Semua harta benda yang diperolehnya adalah hasil kerja kerasnya, bukan karena hasil tipu daya.
3. Ayub adalah seorang yang takut akan Tuhan.
Ayub dikatakan takut akan Allah karena Ayub adalah orang yang senantiasa berusaha menyenangkan hati Tuhan dan tidak pernah melakukan apa yang menyakiti hati Tuhan. Bahkan Ayub juga menjaga agar anak-anaknyapun tidak menyakiti hati Tuhan. Setiap anaknya selesai berpesta, Ayub memanggil semua anaknya kemudian menguduskan mereka dengan memberikan korban persembahan bakaran kepada Tuhan sesuai dengan jumlah anaknya. Ayub takut ketika berpesta anak-anaknya melakukan hal-hal yang menyakiti hati Tuhan. Itu kita temukan pada ayat dibawah:
Ayub 1:5 Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.
Dari Ayat diatas kita bisa melihat bagaimana takutnya Ayub akan Tuhan. Selain Ia sendiri tidak mau menyakiti hati Tuhan, Ia juga tidak mau anak-anaknya menyakiti hati Tuhan.
Berbeda dengan Imam Eli, Eli adalah seorang Imam Besar yang mengepalai Bait Suci namun tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan. Eli tidak memarahi bahkan membiarkan anak-anaknya ketika berbuat dosa di hadapan Tuhan. Eli membiarkan anak-anaknya berzinah dengan wanita-wanita yang melayani di depan pintu kemah pertemuan dan Eli membiarkan pula anak-anaknya berbuat dosa dengan memandang rendah korban persembahan kepada Tuhan. Akibatnya Tuhan murka, itu kita temukan pada ayat dibawah:
I Samuel 3:13 Pada waktu itu Aku akan menepati kepada Eli segala yang telah Kufirmankan tentang keluarganya, dari mula sampai akhir. Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!
Berbeda sekali dengan Ayub bukan? Rasa takut akan Tuhan yang begitu besar membuat Ayub sangat hati-hati dalam bertindak. Walaupun anaknya belum tentu berbuat salah, Ayub memanggil mereka dan menguduskan mereka. Memang tidak di tulis di Alkitab bahwa Ayub memarahi mereka, tetapi dari tindakan Ayub kita bisa melihat bahwa ketika Ayub memanggil mereka pastilah ia menasihati mereka.
Ada satu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari kisah ini yaitu Tuhan sangat marah ketika kita tidak memarahi dan menasihati anak-anak kita yang berbuat dosa. Coba kita perhatikan, betapa banyak orang tua zaman sekarang ini yang tidak ambil peduli atas tingkah laku anak-anaknya. Mereka membiarkan anak-anaknya berbuat semaunya. Betapa sering kita melihat anak-anak yang masih balita sudah berkata-kata kotor atau kata-kata tidak pantas lainnya namun dibiarkan dan tidak dimarahi orang tuanya. Maka jangan heran akhirnya sang anak maupun sang orang tua hidupnya tidak karu-karuan.
Saudaraku, Tuhan ingin kita mendidik anak-anak kita untuk takut akan Tuhan. Tuhan ingin kita menjadi seperti Ayub yang senantiasa memperhatikan tingkah laku anak-anak kita dan mendidik mereka untuk takut akan Tuhan.
4. Ayub menjauhi kejahatan.
Ayub dikatakan menjauhi kejahatan karena Ayub tidak pernah berbuat kejahatan. Ayub tidak pernah mengambil apa yang bukan menjadi haknya.
Dari keempat sifat istimewa inilah yang membuat Ayub menjadi seorang yang sangat spesial di pemandangan Tuhan dan sebagai upahnya Tuhan mengganjar Ayub dengan berkat yang melimpah dan memagarinya dengan pagar perlindungan.
Saudaraku, ada satu lagi sifat istimewa Ayub yang karena itu Tuhan mencurahkan berkatnya dua kali lipat dari sebelumnya, apa itu? Mari kita perhatikan ayat dibawah:
Ayub 2:9:10 Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
Dari ayat diatas kita melihat satu pernyataan Ayub yang luar biasa yang sangat jarang dimiliki oleh manusia terlebih lagi di zaman konsumerisme saat ini. Ayub mau menerima Tuhan apa adanya. Ayub bersedia menerima yang baik maupun yang buruk dari Tuhan.
Banyak orang yang mau ikut Tuhan hanya karena janji-janji berkat dari Tuhan. Tetapi ketika janji itu belum di genapi bahkan ketika hal yang buruk datang, mereka berbalik dan meninggalkan Tuhan.
Sungguh luar biasa iman Ayub. Ketika Tuhan mencurahkan berkatnya, Ayub memuji Tuhan. Ketika Tuhan menarik berkatnya, Ayub juga memuji Tuhan. Itu kita temukan pada ayat dibawah:
Ayub 1:20-21 Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
Intinya, Ayub tetap memuji Tuhan saat suka dan duka. Bagaimana dengan kita saudara? Apakah kita juga memuji Tuhan saat suka dan duka? Harapan kami, kita semua bisa memuji Tuhan saat suka dan duka.
Jadi bagaimana saudara? Mau menerima berkat seperti Ayub? Milikilah kelima hal ini, yaitu :
1. Kesalehan
2. Kejujuran
3. Takut Akan Tuhan
4. Menjauhi kejahatan
5. Memuji dan menyembah Tuhan baik Suka maupun Duka
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin
Last Updated (Tuesday, 23 November 2010 22:21)
Find the Best Web Hosting which offers reliable service and top quality support
















