Doa nazar Yefta, Bagian I
Yefta, orang yang terbuang yang akhirnya di permuliakan
Hakim-Hakim 11:2 Juga isteri Gilead melahirkan anak-anak lelaki baginya. Setelah besar anak-anak isterinya ini, maka mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: "Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain."
Yefta adalah salah seorang pribadi yang pernah memimpin umat Tuhan pada zaman hakim-hakim, yang telah membuat sejarah bagi bangsa Israel karena kepahlawanannya. Bahkan nama Yefta tercatat dalam kitab Ibrani sebagai pahlawan-pahlawan iman (Ibrani 11). Pastinya nama itu tercatat bukan secara kebetulan saja tetapi karena sesuatu hal yang telah dialami dan dilakukannya yaitu penderitaan, iman dan kepahlawanannya yang telah membawa bangsanya kepada kemenangan demi kemenangan.
Yefta pada awalnya bukanlah orang yang diperhitungkan karena catatan garis keturunan yang tidak baik. Dia adalah anak seorang Israel yang bernama Gilead, namun ber-ibukan yang berasal dari kehidupan yang tidak baik, yaitu wanita sundal. Karena latar belakang seorang ibu yang tidak baik tersebut membuat Yefta disingkirkan oleh saudara-saudaranya yang berasal dari ibu yang berbeda sehingga dia tidak memperoleh apapun dari harta warisan yang seharusnya juga dia mendapat bagian di dalamnya. Karena itu Yefta harus berjuang sendiri dan hidup dengan cara yang keras dan dia bergabung dengan orang-orang yang dianggap tidak berharga, orang yang di sia-siakan yang nasibnya sama seperti dia (Hakim2 11:3 King James Version). Bahkan dia menjadi pemimpin kelompok itu. Namun satu hal, kehidupan yang keras itu membentuk Yefta menjadi seorang yang bermental tangguh dan berjiwa pejuang. Maka benarlah apa yang tertulis dalam Roma 8:28 yang berbunyi : “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Kehidupan yang keras itu mendatangkan kebaikan bagi Yefta, bahkan juga bagi seluruh bangsa Israel karena dengan kepemimpinannya bangsa Israel dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, walaupun dia disingkirkan dan diusir dari keluarganya, iman Yefta tidak pernah surut. Bahkan ia menyerahkan semua perkaranya kepada Tuhan. Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:
Hakim-hakim 11:11b ..... Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita semakin dekat dengan Tuhan atau justru semakin jauh ketika kita menghadapi keadaan yang dialami oleh Yefta?. Mudah-mudahan kita bisa seperti Yefta, pada saat dalam pergumulan berat justru kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Daud juga pernah mengalami pergumulan berat dalam hidupnya. Dia pernah disepelekan saudara-saudaranya bahkan dia pernah di kejar-kejar Saul untuk dibunuh karena roh iri hati menguasai Saul. Namun Daud tidak pernah menjauhkan diri dari Tuhan. Dia menyadari bahwa apa yang dialaminya itu adalah didikan Tuhan untuk menjadikan dia seorang yang gagah perkasa. Kita perhatikan ayat dibawah:
Mazmur 144:1 Dari Daud. Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang;
Banyak yang bisa dijadikan alasan bagi Daud untuk bersungut-sungut. Pertama, Tuhan telah memilihnya dan diurapi oleh Samuel menjadi raja. Artinya hak-hak sebagai raja seharusnya sudah menjadi miliknya. Namun apa yang dialaminya justru sebaliknya. Dia dikejar-kejar oleh Saul bagaikan seorang pemberontak. Tapi Daud tidak menyerah sebab ia menyadari apa yang dialaminya adalah didikan dari Tuhan untuk menyiapkan dirinya menjadi seorang raja yang besar dan tangguh.
Saudaraku, rancangan Tuhan sangat indah bagi hidup kita walaupun untuk mewujutkan rancangan itu kita harus mengalami suatu hal yang tidak enak. Tuhan tidak pernah merancangkan rangangan kecelakaan melainkan rancangan masa depan yang penuh harapan.
Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Sama seperti ketika bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian yaitu tanah Kanaan, tanah yang subur yang berlimpah susu dan madu. Untuk menuju kesana bangsa Israel harus melalui suatu tempat yang bernama padang gurun. Di tempat ini umat Israel dididik untuk mengetahui yang namanya kesabaran. Disini pula Tuhan mendidik mereka agar menyadari bahwa mereka adalah bangsa yang lemah, bukan siapa-siapa sehingga mereka tidak berbangga-bangga pada diri sendiri, jika mereka boleh keluar dari Mesir itu bukan karena usaha sendiri melainkan semuanya karena perbuatan tangan Tuhan.
Ulangan 9:4 : Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila TUHAN, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari hadapanmu.
Saudaraku, mungkin diantara kita ada yang seperti Yefta, di singkirkan dan di kucilkan dari lingkungan dan keluarga hanya karena sesuatu hal. Percayalah jika saudara menyerahkan perkara saudara kepada Tuhan dan tetap mengandalkanNya maka rancangan manusia yang tidak baik akan Tuhan ubah menjadi rancangan yang indah bagi masa depan saudara. Itu juga pernah dialami oleh Yusuf. Saudaranya merancangkan kecelakaan namun Tuhan mengubah semua rancangan kecelakaan itu menjadi rancangan yang indah yaitu penyelamatan sebuah bangsa yang besar, bangsa Israel.
Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita. Ingat saja proses pembuatan tembikar dalam Yeremia 18. Seandainya saja tanah liat bisa berteriak mungkin pada saat pembuatan tembikar tersebut dia akan berteriak-teriak karena kesakitan. Pertama, dia harus diambil dan dipisahkan dari kumpulannya dan dari habitatnya. Kemudian dia dihancurkan untuk menyingkirkan pasir dan kotoran-kotoran yang tidak berguna, selanjutnya dia dibentuk menurut rancangan yang sudah ditetapkan oleh penjunan. Proses selanjutnya adalah dia dibiarkan sendiri untuk beberapa waktu lamanya sehingga sedikit kering. Selanjutnya adalah dia dihaluskan lagi dan diberi pewarna agar nanti menghasilkan tembikar warna warni yang indah. Puncaknya adalah dia harus dibakar sampai suhu sekitar 1000 derajat celcius lebih, maka jadilah tembikar yang indah. Tadinya dia adalah hanya sebatas tanah liat yang tidak berharga, namun setelah mengalami proses yang menyakitkan dia menjadi tembikar indah yang mungkin saja sangat mahal harganya, yang dipakai menjadi perabot-perabot untuk menghiasi rumah.
Proses itulah yang dialami Yefta, penderitaan demi penderitaan mengubah hidupnya menjadi seorang pria yang gagah perkasa yang akhirnya membuat dia dipermuliakan. Orang-orang yang tadinya mengusirnya kembali datang kepadanya bahkan mengangkat dia menjadi hakim atas umat Israel. Tuhan memakai Yefta secara luar biasa menyingkirkan segala musuh yang mencoba menghancurkan umat Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati. Amin
Last Updated (Monday, 29 June 2009 17:28)
This content has been locked. You can no longer post any comment.