Belajar dari pertempuran di Rafidim Bagian V
Dimana ada kesepakatan dan kerukunan disana ada kuasa dan berkat
Keluaran 17:12 Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.
Kalimat yang kita perhatikan pada ayat diatas adalah “sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain.” Inti dari kalimat tersebut adalah bahwa kemenangan bangsa Israel bukan hanya karena doa Musa seorang diri. Kemenangan itu juga karena andil dari dua orang lain
yaitu Harun dan Hur yang bersama-sama menopang Musa. Musa punya keterbatasan sehingga ia butuh bantuan orang lain. Musa juga adalah manusia biasa yang masih memiliki kelemahan-kelemahan. Itulah sebabnya ia butuh orang lain untuk menyempurnakan pekerjaannya.
Pelajaran dari kisah ini adalah bahwa setiap manusia pasti punya kelemahan. Tidak peduli apakah dia seorang nabi, pendeta atau manusia lainnya. Selagi dia masih manusia, dia pasti punya kelemahan. Oleh sebab itu jangan selalu menganggap kehidupan setiap hamba Tuhan itu sempurna dan tidak mungkin melakukan kesalahan. Percayalah kalau kita beranggapan demikian, kita pasti kecewa. Sehebat-hebatnya seorang hamba Tuhan, pasti dia juga memiliki kelemahan. Namun Kelemahan itu bukan untuk kita hakimi tetapi untuk kita tutupi. Jangan kita menjadi hakim atas mereka.
Roma 14:4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.
Hamba Tuhan adalah hambanya Tuhan, jangan menghakimi mereka, marilah kita tutupi segala kelemahan dan kekurangan mereka.
Kembali ke ayat pokok, yang menjadi pertanyaan, bagaimana seandainya Harun dan Hur tidak sepakat dengan Musa? Bagaimana seandainya Harun dan Hur tidak cekatan untuk menutupi kelemahan Musa? Yang terjadi adalah “MALAPETAKA”. Bangsa Israel akan binasa karena pedang orang Amalek. Jadi intinya, kemenangan orang Israel bukan hanya karena doa Musa saja tetapi karena adanya KESEPAKATAN dan KERUKUNAN antara Musa, Harun dan Hur. Kesepakatan mendatangkan Kuasa, kerukunan mendatangkan Berkat.
1. Kuasa kesepakatan.
Matius 18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
Dari ayat ini kita melihat bagaimana Tuhan sangat menghargai kesepakatan. Doa yang didasari oleh kesepakatan tidak bisa tidak akan Tuhan kabulkan. Kami pribadi sudah merasakan hal ini. Jika kami menginginkan sesuatu maka saya ajak istri untuk sepakat. Kami mengklaim janji Tuhan pada ayat diatas dan benar, tidak sampai tiga bulan Tuhan menjawabnya. Sudah tiga kali kami mengalaminya.
Inti dari point ini adalah jika kita ingin Tuhan menjawab doa kita, terlebih bagi mereka yang sudah berumah tangga maka panjatkanlah doa dengan didasari oleh kesepakatan. Antara suami dan istri harus sepakat, jangan mementingkan diri sendiri. Kesepakatan mendatangkan Kuasa atas jawaban doa.
2. Kerukunan mendatangkan berkat.
Mazmur 133:1-3 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.
“Damai itu indah”, kata-kata ini banyak kita temukan pada saat kita memasuki provinsi Aceh. Damai adalah kata lain dari rukun dan sesuai dengan ayat diatas dinyatakan alangkah indahnya kalau kita bisa hidup rukun. Benar, sebab dengan hidup rukun maka kita akan dapat merasakan berkat-berkat Tuhan.
Saudaraku, tidak jarang kita mendengar ada orang yang berkata bahwa dia tidak pernah merasakan yang namanya berkat Tuhan. Hidupnya dipenuhi oleh kekeringan, kesusahan dan tekanan. Rasa-rasanya Tuhan itu jauh dan tidak peduli. Seandainya hal itu kita alami, apakah yang harus kita lakukan? Yang harus kita lakukan adalah mari mengoreksi diri. Apakah kita menjalani hidup ini dengan rukun atau sebaliknya hidup penuh dengan perseteruan. Mungkin perseteruan dengan saudara, orang tua, teman, atasan, bawahan dan lain-lain. Sebab tidak ada sesuatu terjadi tanpa sebab. Seperti firman dibawah ini :
Amsal 26:2 Seperti burung pipit mengirap dan burung layang-layang terbang, demikianlah kutuk tanpa alasan tidak akan kena.
Kita hidup hanya dalam dua keadaan yaitu hidup dalam berkat atau hidup dalam kutuk. Kalau kita tidak hidup dalam berkat artinya kita hidup dalam kutuk. Ayat diatas dengan jelas berkata bahwa kutuk tidak akan terjadi tanpa sebab. Menurut konteks pembahasan ini, kehidupan yang tidak rukun adalah salah satu penyebabnya. Oleh sebab itu mari kita menyadari bahwa salah satu kunci meraih berkat Tuhan adalah hidup dalam kerukunan. Tanpa kerukunan tidak akan ada berkat bahkan pepatah duniapun berkata demikian “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Dalam rumah tangga, agar berkat Tuhan tercurah maka dalam keluarga itu harus ada kerukunan antara suami, istri dan anak-anak. Dalam gereja, agar berkat Tuhan tercurah maka antara Gembala dan Jemaat harus ada kerukunan. Intinya, kerukunan mendatangkan berkat. Tuhan Yesus memberkati, amin Last Updated (Wednesday, 28 October 2009 00:25)
This content has been locked. You can no longer post any comment.