Switch to mobile site
Pendalaman Alkitab
Bagian I Seri Makna Natal; Adakah Yesus lahir dihati kita?

Bagian I Seri Makna Natal; Adakah Yesus...

Bagian I Seri Makna Natal Adakah Yesus lahir dihati kita? - Natal yang Kehilangan Makna- Bulan... [More...]

Masa Pencobaan
Apa yang memisahkan kita dari Kasih Kristus?

Apa yang memisahkan kita dari Kasih...

Roma 8:35  Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan... [More...]

Renungan Umum
Belajar dari kehidupan Gideon

Belajar dari kehidupan Gideon

Pagi ini saya sangat tersentuh dengan kisah Gideon yang diangkat Tuhan menjadi Hakim atas Israel.... [More...]

Kesaksian Pembaca
Renungan Lainnya
Tinggalkan Pesan
ShoutMix chat widget
Ads on: Special HTML

Ads on: Special HTML
Renungan Singkat

Bagian II, Doa nazar Yefta : Doa Nazar yang sembrono

Bagian II, Doa nazar Yefta
Doa Nazar yang sembrono

Hakim-Hakim 11:30-31 Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: "Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran."

Itu adalah doa nazar yang di ucapkan Yefta ketika dia akan berperang dengan bani amon. Jika kita perhatikan, maka kita melihat bahwa Yefta adalah seorang yang tidak berfikir panjang, tidak menjaga perkataan dan gegabah/kurang berhikmat. Dia tidak memikirkan dampak dari perkataannya. Dengan sembarangan dia mengucapkan nazar kepada Tuhan dimana akibat dari nazar itu anak satu-satunya harus di korbankan. Kemenangan terhadap bani Amon harus dibayar mahal yaitu dengan nyawa anaknya.

Sebenarnya untuk memperoleh kemenangan Yefta tidak harus sampai bernazar. Cukup dengan merendahkan diri dan meminta pertolongan Tuhan mereka sudah pasti menang. Bernazar memang baik tetapi kalau nazar diucapkan dengan sembarangan maka akan sangat berbahaya. Kejadiannya bisa sama seperti kisah ini.

Sampai saat ini masih acapkali kita jumpai seseorang bernazar. Biasanya nazar di ucapkan karena orang yang mengucapkan nazar tersebut mempunyai keinginan yang besar agar permohonannya di kabulkan Tuhan. Tapi perlu diingat bahwa ketika nazar diucapkan maka nazar itu harus di tepati karena kalau tidak nazar itu akan menjadi dosa (Ulangan 23:21). Jadi, lebih baik kita tidak usah bernazar dari pada nantinya tidak melakukannya.

Nah, apa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini?
1. Janganlah sembarang berkata-kata.
Kita harus menjaga setiap perkataan kita agar jangan perkataan itu menjadi jerat bagi kita. Lidah yang tidak terkendali cenderung mendatangkan kesukaran dan malapetaka. Banyak terjadi pertengkaran disebabkan oleh ketidakmampuan mengendalikan lidah.

Amsal  21:23 Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.

Yefta gagal dalam menjaga perkataannya akibatnya ia berada dalam kesukaran besar dan jatuh kedalam dosa pembunuhan karena harus membunuh orang yang tidak bersalah dan mempersembahkannya menjadi korban bakaran. Yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah korban persembahan nazar Yefta diinginkan oleh Tuhan? Jawabannya adalah tidak, Tuhan tidak pernah menginginkan korban bakaran berupa daging manusia. Dalam kitab Imamat, Tuhan sudah mengatur apa-apa saja yang bisa di persembahkan sebagai korban bakaran dan saya tidak menemukan bahwa manusia adalah salah satu di dalamnya.Tuhan tidak pernah memerintahkan manusia mempersembahkan manusia untuk menjadi korban persembahan bagi-Nya. Malah itu adalah suatu kekejian dimataNya. Seandainya Tuhan menyukainya, tentulah pada saat Abraham mempersembahkan Ishak, Tuhan tidak menghalanginya.

Lebih parahnya, ada satu hal yang Yefta lupa yaitu bahwa nazar mengenai seorang manusia sebenarnya dapat di tebus. Memang benar ada firman Tuhan yang berkata bahwa apabila seseorang mengucapkan nazar maka nazar itu harus tepat dilakukan seperti yang diucapkan. Namun untuk nazar mengenai manusia, Tuhan memberi pengecualian yaitu nazar tersebut dapat di tebus. Besarnya biaya penebusannya adalah tergantung dari jenis kelamin dan umur dari manusia yang akan di tebus. Kita perhatikan ayat dibawah.

Imamat 27:2 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seorang mengucapkan nazar khusus kepada TUHAN mengenai orang menurut penilaian yang berlaku untuk itu,

Imamat 27:5 Jikalau itu mengenai seorang dari yang berumur lima tahun sampai yang berumur dua puluh tahun, maka bagi laki-laki nilai itu harus dua puluh syikal dan bagi perempuan sepuluh syikal.

Kita berandai-andai bahwa anak gadis Yefta adalah berumur 20 tahun, maka besarnya tembusan yang harus di keluarkan oleh Yefta adalah sebesar 10 syikal perak. Yang menjadi pertanyaan, mengapa Yefta tidak melakukan pembayaran tebusan atas nazar yang di ucapkannya? Kemungkinan salah satu penyebabnya adalah bahwa Yefta tidak mengetahui firman Tuhan tersebut.

Saudaraku, betapa pentingnya kita mengetahui firman Tuhan. Pengetahuan akan firman Tuhan menyebabkan kita terhindar dari melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kita bersyukur bahwa Tuhan tidak melarang Alkitab di terjemahkan ke berbagai bahasa sehingga setiap orang bisa membaca, belajar, mengerti dan mematuhi firman Tuhan. Dengan membaca maka kita bisa belajar, dengan belajar maka kita bisa mengerti dan dengan mengerti maka kita bisa mematuhi firman Tuhan. Mematuhi firman Tuhan lebih baik dari persembahan bakaran dan persembahan manapun. Itu tercatat pada ayat dibawah

I Samuel  15:22 Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan (versi KJV= obey = mematuhi) lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

2. Jangan bertindak  tergesa-gesa, gegabah/kurang berhikmat.
Dari doanya menunjukkan bahwa Yefta adalah orang yang tergesa-gesa, gegabah/kurang berhikmat. Orang yang tergesa-gesa cenderung tidak merencanakan apa yang akan di lakukannya termasuk yang akan di ucapkannya. Apa yang dilakukan dan diucapkannya adalah berdasarkan apa yang muncul di hatinya pada saat itu. Akibatnya Yefta menjadi salah langkah, maka benarlah apa yang alkitab tuliskan pada ayat di bawah:

Amsal  19:2 Tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.

Orang yang gegabah/kurang berhikmat cenderung tidak berfikir panjang tentang apa yang akan dilakukannya dan dampak dari perbuatannya itu. Akibatnya dia terjerat dengan perkataannya sendiri yang tentunya bukan saja merugikan dirinya tetapi juga merugikan orang lain.

Pengkhotbah  9:18 Hikmat lebih baik dari pada alat-alat perang, tetapi satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik.

Kekurang hikmatan Yefta juga kelihatan ketika dia menghadapi tekanan orang Efraim yang tersinggung karena Yefta tidak mengajak mereka bergabung menghadapi bani Amon. Bahkan Yefta menantang balik sehingga terjadi perang saudara yang mengakibatkan tewasnya orang Efraim sebanyak empat puluh dua ribu orang. Yefta tidak belajar dari kepemimpinan Yosua. Pada masa Yosua juga sempat terjadi kesalah pahaman karena suku Ruben, Gad dan Manasye yang setengah dengan sembilan setengan suku lainnya. Ini dikarenakan suku Ruben, Gad dan Manasye yang setengah mendirikan mezbah di Gelilot pada sungai Yordan di sebelah wilayah Israel. Ini tercatat dalam Yosua 22:11. Sembilan setengah suku yang lain merasa tersinggung karena menganggap mereka membuat mezbah tandingan dan memberontak. Akibatnya mereka mengumpulkan kekuatan untuk menghancurkan yang dua setengah suku ini. Namun Yosua bertindak bijak sana. Dia mengirim utusan yaitu para pemimpin suku untuk menanyakan dan menyelidiki hal tersebut. Dan ternyata tidak benar mereka memberontak, mereka mendirikan Mezbah itu sebagai peringatan bagi anak-cucu mereka bahwa mereka juga adalah bagian dari Israel yang menyembah Allah yang hidup yaitu Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Akhirnya pertumpahan darah sia-sia dapat dihindarkan.

Oleh sebab itu janganlah tergesa-gesa dan gegabah dalam bertindak, sebaliknya marilah kita meminta hikmat kepada Tuhan agar kita tidak salah dalam melangkah sehingga tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.

Namun mengapa Alkitab tidak dengan gamblang mencatat kesalahan Yefta? Itulah yang di sebut kasih karunia Tuhan. Tuhan tidak akan mengingat setiap dosa yang sudah diampuni yang pernah dilakukan anak-anakNya, terlebih mereka yang hidup dalam iman kepadaNya. Setiap tindakan iman kita akan di catat dalam kitab kehidupan-Nya, sama seperti nama Yefta yang tercatat sebagai pahlawan iman dalam Kitab Ibrani 11. Namun sebaliknya, Tuhan akan menghapus dan tidak mengingat dosa-dosa kita lagi apabila kita hidup dalam iman kepadaNya seperti Tuhan juga tidak mencatat dosa-dosa Yefta dalam alkitab.

Yesaya  43:25 Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.

Tuhan Yesus memberkati. Amin
Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com

Last Updated (Monday, 06 July 2009 20:16)

 

This content has been locked. You can no longer post any comment.

Find the Best Web Hosting which offers reliable service and top quality support
Renungan Populer
powered by camp26
Hits Counter
Sejak 5 Desember 2008
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini821
mod_vvisit_counterKemarin1288
mod_vvisit_counterMinggu ini2109
mod_vvisit_counterMinggu lalu10795
mod_vvisit_counterBulan ini9789
mod_vvisit_counterBulan lalu44815
mod_vvisit_counterAll days1380785
We have: 1 guests, 5 bots online
Your IP: 38.107.179.208
 , 
Today: Feb 07, 2012
Secure Certificate
SiteLock
Ads on: Special HTML
Facebook FanBox
Follow us on Twitter
Powered by Twitter Fan Box & Pizcar