Bagian I: Belajar dari pertempuran di Rafidim
Suatu saat peperangan itu pasti terjadi
Keluaran 17:10-11 Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit. Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.
Ayat ini adalah potongan kisah dari peristiwa pertempuran antara orang Israel dan orang Amalek yang terjadi di rafidim. Kisah lengkapnya dapat kita baca di Keluaran 17 : 8-16. Dalam kisah itu diceritakan bahwa ketika orang Israel berada di Rafidim, orang-orang Amalek datang menyerang. Lalu Musa memerintahkan kepada Yosua untuk memilih orang-orang yang akan bertempur melawan orang Amalek tersebut, sementara Musa, Harun dan Hur naik keatas bukit untuk berdoa. Tetapi terjadilah, ketika Musa mengangkat tangannya maka Orang Israel menang, namun ketika Musa menurunkan tangannya orang Amaleklah yang menang. Sungguh saudara, kisah ini mengandung makna yang dalam. Kalau kita baca sekilas, kisah ini tidak akan
memiliki makna selain hanya sejarah peristiwa pertempuran Israel dan Amalek saja. Tetapi kalau kita kaji lebih dalam maka kisah ini mengandung makna yang dalam.
Menurut analisa saya pribadi ada beberapa makna yang terkandung dalam kisah ini, yaitu:
1. Suatu waktu kita pasti akan menghadapi peperangan.
Saudaraku, mau tidak mau suatu waktu kita pasti akan menghadapi yang namanya peperangan, terutama peperangan rohani. Walaupun bukan kita yang memulai, suatu saat musuh pasti akan memulainya. Kita perhatikan ayat dibawah:
Keluaran 17:8 Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim.
Dalam ayat ini kita lihat bahwa orang Amaleklah yang terlebih dahulu yang menyerang orang Israel. Pada saat itu orang Israel tidak sedang mengadakan persiapan melakukan peperangan. Justru pada saat itu mereka sedang lemah baik secara jasmani maupun secara rohani. Ada bebarapa hal yang membuat mereka lemah secara jasmani dan rohani yang dapat kita temukan pada kisah ini, yaitu :
- Mereka kehabisan air (Keluaran 17:1 ).
- Mereka bertengkar dengan Musa (Keluaran 17:2).
- Mereka bersungut-sungut kepada Musa (Keluaran 17:3).
Namun sumber kelemahan utama mereka adalah karena tidak ada air yang mengakibatkan mereka bertenkar dan bersungut-sungut dimana hal itu membuat mereka semakin lemah. Ketika mereka tiba pada puncak kelemahannya disitulah orang Amalek datang menyerang. Dari sini dapat kita lihat bahwa musuh senantiasa menanti-nantikan saat kita lemah, dan ketika itu terjadi maka musuh akan menyerang.
I Petrus 5:8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
Ayat ini mendukung apa yang saya nyatakan di atas. Iblis adalah musuh kita yang senantiasa berjalan berkeliling dan mencari cari orang-orang yang lemah yang dapat di telannya. Artinya suatu saat peperangan pasti akan terjadi terutama pada saat kita lemah. Oleh sebab itu waspadalah jangan sampai kita menjadi lemah karena hal itulah yang dianti-nanti oleh iblis.
Dari tiga point penyebab kelemahan diatas dapat kita ambil makna rohaninya yaitu :
a. Kehabisan air.
Air adalah kebutuhan yang paling pokok manusia. Penelitian membuktikan tubuh manusia hampir 90% terdiri dari air. Artinya tanpa air manusia akan mati. Namun sebelum manusia sampai ketahap itu ada dua fase yang akan di alami manusia yaitu kehausan dan dehidrasi.
Saudaraku, Air adalah gambaran dari firman Tuhan. Manusia rohani kita tidak akan bisa hidup tanpa air firman. Manusia rohani akan mengalami kematian jika tidak ada air firman. Namun sebelum sampai kepada fase itu manusia rohani juga akan mengalami dua fase yaitu haus akan firman Tuhan dan fase selanjutnya adalah lemah secara rohani. Mengenai haus akan firman dapat kita lihat pada ayat dibawah ini:
Amos 8:11-13 "Sesungguhnya, waktu akan datang," demikianlah firman Tuhan ALLAH, "Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman TUHAN. Mereka akan mengembara dari laut ke laut dan menjelajah dari utara ke timur untuk mencari firman TUHAN, tetapi tidak mendapatnya. Pada hari itu akan rebah lesu anak-anak dara yang cantik dan anak-anak teruna karena haus;
Saudaraku, dari hal ini dapat kita lihat betapa pentingnya firman Tuhan dalam kehidupan kita. Dalam Mazmur 1:1-3 dinyatakan orang yang kesukaannya merenungkan firman Tuhan adalah sama seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air yang senantiasa segar, tidak pernah mengalami datangnya musim kering. Intinya begini, dengan senantiasa merenungkan firman Tuhan akan membawa kesegaran kepada kita. Kesegaran rohani pasti akan mempengaruhi kesegaran jasmani. Perhatikan orang-orang yang stress, pasti wajah mereka akan memancarkan kekeringan. Namun satu hal, untuk memperoleh kesegaran itu, firman bukan hanya sekedar dibaca, namun harus benar-benar direnungkan.
Beberapa orang pernah berdiskusi dengan saya kenapa dia selalu merasa kekeringan padahal setiap hari dia senantiasa membaca firman Tuhan. Namun ketika saya tanya apakah dia membaca firman Tuhan hanya sekedar membaca atau merenungkannya. Ternyata jawabannya adalah dia hanya membaca. Firman Tuhan hanya sekedar di baca saja. Membaca firman Tuhan dengan cara seperti ini dapat di ibaratkan seperti selang air. Air akan melalui selang itu namun air tidak akan tersimpan di selang itu dan akhirnya selang itu tetap kering.
Firman Tuhan hanya sekedar di baca saja. Membaca firman Tuhan dengan cara seperti ini dapat di ibaratkan seperti selang air. Air akan melalui selang itu namun air tidak akan tersimpan di selang itu dan akhirnya selang itu tetap kering.
|
Orang yang merenungkan firman Tuhan dapat disamakan dengan bejana. Ketika bejana itu diisi air, maka air itu akan tersimpan didalamnya. Namun satu hal, isi bejana itu dapat berkurang karena penguapan yang di akibatkan oleh panas matahari.
Panas matahari adalah gambaran dari pencobaan-pencobaan yang datang menerpa. Pencobaan-pencobaan dapat membuat kerohanian kita kering. Itulah sebabnya bejana hati kita harus senantiasa diisi air firman agar senantiasa segar.
b. Bertengkar dengan Musa.
Akibat kekeringan maka terjadilah pertengkaran antara orang Israel dan Musa. Kekeringan membuat emosi mereka meningkat sehingga pemimpinpun tidak dihargai lagi.
Sama halnya dengan kekeringan secara jasmani, kekeringan secara rohanipun membuat rohani kita tidak stabil. Makanya jangan heran kalau kita menemukan ada jemaat yang dengan tidak segan-segan berdebat dan bertengkar dengan gembalanya. Dia akan senantiasa mencari-cari kesalahan gembala yang artinya hamba Tuhan sudah tidak dihargai lagi.
c. Bersungut-sungut.
Akibat selanjutnya adalah terjadinya persungut-sungutan. Bila jemaat sudah bersungut-sungut terhadap gembalanya maka gereja tersebut berada diambang perpecahan.
Sungut-sungut adalah sifat orang fasik. Mengenai hal itu dapat kita lihat di Yudas 1:16. Sungut-sungut adalah lawan dari ucapan syukur. Orang yang bersungut-sungut tidak akan pernah mengucap syukur dalam hidupnya. Tuhan paling benci dengan orang yang bersungut-sungut. Generasi pertama orang Israel gagal masuk tanah perjanjian yaitu tanah kanaan karena bersungut-sungut. Kita lihat ayat dibawah :
Bilangan 14:29-30 Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku. Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun!
Oleh sebab itu berhati-hatilah jangan kita menjadi lemah agar iblis tidak membujuk kita untuk jatuh dalam persungutan. Persungutan akan membuat kita tidak sampai ketanah perjanjian yaitu Yerusalem baru, surga yang mulia. Mari kita senantiasa waspada agar kita tidak menjadi lemah. Sekali lagi mari kita perhatikan ayat ini :
I Petrus 5:8-9a Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh,
Ingat, mau-tidak mau peperangan pasti suatu saat akan terjadi. Jangan menjadi lemah, biarlah kita senantiasa menjaga kesegaran rohani kita dengan senantiasa membaca dan merenungkan firman Tuhan agar kita tetap kuat. Tuhan Yesus memberkati. (Bersambung)